MAKALAH
PENURUNAN SISTEM IMUN

Oleh:
Kiky widya loka
Nurhasanah
Nurhasanah
Rini hastuti
Reza Maryanto
PROGRAM
STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JAMBI
2011
BAB
1
PENDAHULUAN
1.1 Latar
belakang
Kata imun berasal dari bahasa Latin ‘immunitas’ yang berarti pembebasan
(kekebalan) yang diberikan kepada para senator Romawi selama masa jabatan
mereka terhadap kewajiban sebagai warganegara biasa dan terhadap dakwaan. Dalam
sejarah, istilah ini kemudian berkembang sehingga pengertiannya berubah menjadi
perlindungan terhadap penyakit, dan lebih spesifik lagi, terhadap penyakit
menular. Sistem imun adalah suatu sistem dalam tubuh yang terdiri dari sel-sel
serta produk zat-zat yang dihasilkannya, yang bekerja sama secara kolektif dan
terkoordinir untuk melawan benda asing seperti kuman-kuman penyakit atau
racunnya, yang masuk ke dalam tubuh.
1.2 Tujuan
a. Untuk
mengetahui apa itu sistem imun
b. Mengetahui
beberapa penyebab penurunan sistem imun
1.3 Rumusan
masalah
a. Apa
pengertian sistem imun
b. Penurunan
sistem imun akibat kemoterapi
c. Penurunan
sistem imun akibat radiasi
d. Penurunan
sistem imun akibat asap kendaraan
e. Penurunan
sistem imun akibat bahan kimia
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian
Sistem
imun adalah sistem perlindungan pengaruh luar biologis yang dilakukan oleh sel dan
organ khusus
pada suatu organisme.
Jika sistem kekebalan bekerja dengan benar, sistem ini akan melindungi tubuh
terhadap infeksi bakteri
dan virus,
serta menghancurkan sel kanker
dan zat asing lain dalam tubuh. Jika sistem kekebalan melemah, kemampuannya
melindungi tubuh juga berkurang, sehingga menyebabkan patogen,
termasuk virus yang menyebabkan demam dan flu, dapat berkembang dalam tubuh.
Sistem kekebalan juga memberikan pengawasan terhadap sel tumor,
dan terhambatnya sistem ini juga telah dilaporkan meningkatkan resiko terkena
beberapa jenis kanker.
2.2 penurunan sistem
imun akibat kemoterapi
Kemoterapi
adalah proses pengobatan dengan menggunakan obat-obatan yang bertujuan untuk
membunuh atau memperlambat pertumbuhan sel-sel kanker.Pengobatan
kemoterapi memang identik dengan pasien kanker. Beberapa efek samping seperti
mual, muntah, rambut rontok dan lemas adalah hal yang umum dijumpai pada mereka
yang menjalani terapi ini. Namun studi terbaru mengklaim, efek kemoterapi dalam
dosis tinggi juga bisa membuat orang sulit untuk mengekspresikan diri secara
verbal.
Kemoterapi
dapat menyebabkan penurunan pada darah, karena beberapa jenis obat kemoterapi
dapat mempengaruhi kerja sumsum tulang yang merupakan pabrik pembuat sel darah,
sehingga jumlah sel darah menurun. Yang paling sering adalah penurunan sel
darah putih(leukosit) penurunan sel darah terjadi pada setiap kemoterapi dan
tes darah akan dilaksanakan sebelum kemoterapi untuk memastikan jumlah sel
darah telah kembali normal. Penurunan sel darah dapat mengakibatkan :
a.
Mudah terkena infeksi
Hal
ini disebabkan oleh karena jumlah leukosit turun, karena leukosit adalah sel
darah yang berfungsi untuk melindungi terhadap infeksi.
b.
Pendarahan
Keping
darah (trombosit) berperan pada pembekuan darah . Penurunan jumlah trombosit
mengakibatkan pendarahan sulit berhenti, lembam, dan bercak merah dikulit.
c.
Anemia
Anemia
adalah penurunan jumlah sel darah merah yang ditandai oleh penurunan Hb
(hemoglobin), karena Hb terletak didalam sel darah merah. Akibatnya tubuh
penderita mudah lelah, lemas dan pucat.
2.3
penuruna sistem imun akibat radiasi
Terapi
radiasi adalah terapi sinar menggunakan energi tinggi yang dapat menembus
jaringan dalam rangka membunuh sel neoplasma.
Persyaratan Terapi Radiasi
Penyembuhan total terhadap karsinoma nasofaring apabila hanya menggunakan terapi radiasi harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :
a. Belum didapatkannya sel tumor di luar area radiasi
b. Tipe tumor yang radiosensitif
c. Besar tumor yang kira-kira radiasi mampu mengatasinya
d. Dosis yang optimal.
e. Jangka waktu radiasi tepat
f. Sebisa-bisanya menyelamatkan sel dan jaringan yang normal dari efek samping radiasi.
Penyembuhan total terhadap karsinoma nasofaring apabila hanya menggunakan terapi radiasi harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :
a. Belum didapatkannya sel tumor di luar area radiasi
b. Tipe tumor yang radiosensitif
c. Besar tumor yang kira-kira radiasi mampu mengatasinya
d. Dosis yang optimal.
e. Jangka waktu radiasi tepat
f. Sebisa-bisanya menyelamatkan sel dan jaringan yang normal dari efek samping radiasi.
Terapi radiasi sendiri sifatnya adalah :
a. Merupakan terapi yang sifatnya lokal dan regional
b. Mematikan sel dengan cara merusak DNA yang akibatnya bisa mendestrukasi sel tumor
c. Memiliki kemampuan untuk mempercepat proses apoptosis dari sel tumor.
d. Ionisasi yang ditimbulkan oleh radiasi dapat mematikan sel tumor.
e. Memiliki kemampuan mengurangi rasa sakit dengan mengecilkan ukuran tumor sehingga mengurangi pendesakan di area sekitarnya..
f. Berguna sebagai terapi paliatif untuk pasien dengan perdarahan dari tumornya.
g. Walaupun pemberian radiasi bersifat lokal dan regional namun dapat mengakibatkan defek imun secara general.
a. Merupakan terapi yang sifatnya lokal dan regional
b. Mematikan sel dengan cara merusak DNA yang akibatnya bisa mendestrukasi sel tumor
c. Memiliki kemampuan untuk mempercepat proses apoptosis dari sel tumor.
d. Ionisasi yang ditimbulkan oleh radiasi dapat mematikan sel tumor.
e. Memiliki kemampuan mengurangi rasa sakit dengan mengecilkan ukuran tumor sehingga mengurangi pendesakan di area sekitarnya..
f. Berguna sebagai terapi paliatif untuk pasien dengan perdarahan dari tumornya.
g. Walaupun pemberian radiasi bersifat lokal dan regional namun dapat mengakibatkan defek imun secara general.
Efek Samping Terapi Radiasi :
1. Radiomukositis, stomatitis, hilangnya indra pengecapan, rasa nyeri dan ngilu pada gigi.
2.Xerostomia, trismus, otitis media
3.Pendengaran menurun
4.Pigmentasi kulit seperti fibrosis subkutan atau osteoradionekrosis.
5.Pada terapi kombinasi dengan sitostatika dapat timbul depresi sumsum tulang dan gangguan gastrointestinal.
6.Lhermitte syndrome karena radiasi myelitis.
7.Hypothyroidism
8.dsb
1. Radiomukositis, stomatitis, hilangnya indra pengecapan, rasa nyeri dan ngilu pada gigi.
2.Xerostomia, trismus, otitis media
3.Pendengaran menurun
4.Pigmentasi kulit seperti fibrosis subkutan atau osteoradionekrosis.
5.Pada terapi kombinasi dengan sitostatika dapat timbul depresi sumsum tulang dan gangguan gastrointestinal.
6.Lhermitte syndrome karena radiasi myelitis.
7.Hypothyroidism
8.dsb
Pengaruh Terapi Radiasi Terhadap
Sistem Imun
Secara luas dilaporkan bahwa segera setelah pemberian radiasi terjadi gangguan terhadap sel limfosit T, yang akibatnya memudahkan timbulnya berbagai macam infeksi. Pasien dengan tumor primer di leher dimana drainase limfatiknya juga di leher , setelah diberikan radiasi mengakibatkan berkurangnya limfosit darah tepi secara signifikan. Jumlah limfosit T CD4+ menurun lebih bermakna dibandingkan penurunan jumlah sel limfosit T CD8+. Gangguan akibat radiasi tidak hanya mempengaruhi jumlah sel limfosit T namun juga mengakibatkan defek pada fungsi sel T. Adanya gangguan fungsi dibuktikan dengan sulitnya sel T ini distimulasi pada percobaan invitro. Penelitian menunjukkan bahwa ada kecenderungan normalisasi sel limfosit T CD4+ setelah 3-4 minggu pasca radiasi.
Secara luas dilaporkan bahwa segera setelah pemberian radiasi terjadi gangguan terhadap sel limfosit T, yang akibatnya memudahkan timbulnya berbagai macam infeksi. Pasien dengan tumor primer di leher dimana drainase limfatiknya juga di leher , setelah diberikan radiasi mengakibatkan berkurangnya limfosit darah tepi secara signifikan. Jumlah limfosit T CD4+ menurun lebih bermakna dibandingkan penurunan jumlah sel limfosit T CD8+. Gangguan akibat radiasi tidak hanya mempengaruhi jumlah sel limfosit T namun juga mengakibatkan defek pada fungsi sel T. Adanya gangguan fungsi dibuktikan dengan sulitnya sel T ini distimulasi pada percobaan invitro. Penelitian menunjukkan bahwa ada kecenderungan normalisasi sel limfosit T CD4+ setelah 3-4 minggu pasca radiasi.
2.4 Penurunan sistem imun akibat asap kendaraan
Semakin tingginya tingkat polusi kendaraan di kota bukan
hanya dapat menyebabkan dampak buruk pada pernafasan, polusi asap kendaraan
bermotor dicurigai mempengaruhi penghambatan pertumbuhan janin. Demikian
kesimpulan penelitian yang dilakukan para ilmuwan dari University of Western
Australia dan Lembaga Penelitian Kesehatan Anak.
Penelitian yang dipimpin oleh Asisten Profesor Gavin Pereira
ini memantau tingkat emisi lalu lintas di wilayah dengan kegiatan industri yang
relatif rendah kemudian membandingkannya dengan catatan kelahiran lebih dari
1.000 ibu selama enam tahun, yaitu antara tahun 2000 dan 2006. Hasil
penelitiannya diterbitkan Journal of Public Health Australia dan
Selandia Baru dan menunjukkan bahwa bayi baru lahir yang berat optimalnya dapat
mencapai 3,5 kg ternyata banyak yang lahir dengan berat hingga 58 g lebih
ringan. Dibandingkan efeknya pada ibu hamil yang merokok, ibu yang terpapar
asap kendaraan bermotor memiliki efek setengahnya.
Pereira mengatakan bahwa hasil ini cukup mengejutkan karena
penelitiannya ini mengamati efek udara yang telah memenuhi pedoman standar
kualitas nasional. “Penelitian internasional telah menemukan beberapa
keterkaitan, tapi ini adalah untuk pertama kalinya kita melihat hubungan antara
polusi lalu lintas di pinggiran kota yang normal dan efeknya terhadap
pertumbuhan janin,” kata Pereira.
“Ada pesan yang akan diambil dari penelitian ini. Kita semua
memiliki tanggung jawab untuk menjaga tingkat emisi tetap rendah. Kurangi
berkendaraan, gunakan alat transportasi umum, perbanyak bersepeda dan berjalan
kaki. Aktifitas perjalanan akan menambah manfaat untuk kesehatan jika tidak
memperbanyak emisi lalu lintas,” katanya seperti dikutip dari situs resmi University
of Western Australia, Rabu (6/10/2011).
Pereira saat ini meneliti pengaruh pembangunan lingkungan
terhadap aktivitas fisik dan penyakit kronis. Menurutnya, perencanaan
tata kota mungkin dapat menjadi salah satu strategi mengurangi beberapa
penyakit utama seperti obesitas, diabetes, jantung dan asma.
2.5 penuruna sistem imun akibat bahan kimia
Zat-zat
kimia yang sering dipakai pada kemasan makanan siap saji, pakaian dan alat
masak anti lengket, ditengarai akan melemahkan respon imun dalam tubuh
anak-anak sehingga mengurangi efektivitas vaksin. Jenis vaksin yang paling
berpengaruh terhadap zat-zat kimia tersebut antara lain suntikan vaksin tetanus
dan difteri. Studi mengenai dampak negatif senyawa perfluorinated tersebut
dimuat dalam jurnal American Medical Association.
Menurut penelitian, perfluorinated (PFC) bisa dipindahkan oleh ibu ke bayi saat di kandungan, atau melalui paparan di lingkungan setelah kelahiran. "Dampak negatif zat-zat kimia PFC pada vaksinasi anak-anak harus dilihat sebagai potensi yang berbahaya bagi kesehatan publik. Apalagi imunisasi adalah program pencegahan penyakit pada anak," kata Philippe Grandjean, ketua peneliti dari Harvard School of Public Health.
Para peneliti mengatakan terkejut dengan hasil riset yang menunjukkan bahwa PFC mungkin bersifat lebih toksin bagi sistem kekebalan tubuh dibandingkan paparan dioxin. Padahal PFC dipakai dalam berbagai industri. Pada studi awal diketahui konsenstrasi PFC pada tikus sama dengan yang ditemukan pada orang-orang yang memiliki respon imun rendah. Namun efek negatif zat kimia tersebut pada manusia belum diteliti secara mendalam.
Menurut penelitian, perfluorinated (PFC) bisa dipindahkan oleh ibu ke bayi saat di kandungan, atau melalui paparan di lingkungan setelah kelahiran. "Dampak negatif zat-zat kimia PFC pada vaksinasi anak-anak harus dilihat sebagai potensi yang berbahaya bagi kesehatan publik. Apalagi imunisasi adalah program pencegahan penyakit pada anak," kata Philippe Grandjean, ketua peneliti dari Harvard School of Public Health.
Para peneliti mengatakan terkejut dengan hasil riset yang menunjukkan bahwa PFC mungkin bersifat lebih toksin bagi sistem kekebalan tubuh dibandingkan paparan dioxin. Padahal PFC dipakai dalam berbagai industri. Pada studi awal diketahui konsenstrasi PFC pada tikus sama dengan yang ditemukan pada orang-orang yang memiliki respon imun rendah. Namun efek negatif zat kimia tersebut pada manusia belum diteliti secara mendalam.
BAB III
PENUTUP
3.1 kesimpulan
Sistem imun adalah suatu sistem dalam tubuh yang terdiri dari sel-sel
serta produk zat-zat yang dihasilkannya, yang bekerja sama secara kolektif dan
terkoordinir untuk melawan benda asing seperti kuman-kuman penyakit atau
racunnya, yang masuk ke dalam tubuh.
Kemoterapi adalah proses pengobatan dengan menggunakan obat-obatan yang
bertujuan untuk membunuh atau memperlambat pertumbuhan sel-sel
kanker.Pengobatan kemoterapi memang identik dengan pasien kanker.
Terapi radiasi adalah terapi sinar menggunakan energi
tinggi yang dapat menembus jaringan dalam rangka membunuh sel neoplasma.
Semakin
tingginya tingkat polusi kendaraan di kota bukan hanya dapat menyebabkan dampak
buruk pada pernafasan, polusi asap kendaraan bermotor dicurigai mempengaruhi
penghambatan pertumbuhan janin.
Zat-zat
kimia yang sering dipakai pada kemasan makanan siap saji, pakaian dan alat
masak anti lengket, ditengarai akan melemahkan respon imun dalam tubuh anak-anak
sehingga mengurangi efektivitas vaksin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar