Minggu, 27 Mei 2012

penurunan sistem imun


MAKALAH
PENURUNAN SISTEM IMUN
logo-unja.png








Oleh:
Kiky widya loka
Nurhasanah
Rini hastuti
Reza Maryanto

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JAMBI
2011

                                                                BAB 1
PENDAHULUAN
1.1  Latar belakang
Kata imun berasal dari bahasa Latin ‘immunitas’ yang berarti pembebasan (kekebalan) yang diberikan kepada para senator Romawi selama masa jabatan mereka terhadap kewajiban sebagai warganegara biasa dan terhadap dakwaan. Dalam sejarah, istilah ini kemudian berkembang sehingga pengertiannya berubah menjadi perlindungan terhadap penyakit, dan lebih spesifik lagi, terhadap penyakit menular. Sistem imun adalah suatu sistem dalam tubuh yang terdiri dari sel-sel serta produk zat-zat yang dihasilkannya, yang bekerja sama secara kolektif dan terkoordinir untuk melawan benda asing seperti kuman-kuman penyakit atau racunnya, yang masuk ke dalam tubuh.

1.2  Tujuan
a.       Untuk mengetahui apa itu sistem imun
b.      Mengetahui beberapa penyebab penurunan sistem imun

1.3  Rumusan masalah
a.       Apa pengertian sistem imun
b.      Penurunan sistem imun akibat kemoterapi
c.       Penurunan sistem imun akibat radiasi
d.      Penurunan sistem imun akibat asap kendaraan
e.       Penurunan sistem imun akibat bahan kimia








BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian

Sistem imun adalah sistem perlindungan pengaruh luar biologis yang dilakukan oleh sel dan organ khusus pada suatu organisme. Jika sistem kekebalan bekerja dengan benar, sistem ini akan melindungi tubuh terhadap infeksi bakteri dan virus, serta menghancurkan sel kanker dan zat asing lain dalam tubuh. Jika sistem kekebalan melemah, kemampuannya melindungi tubuh juga berkurang, sehingga menyebabkan patogen, termasuk virus yang menyebabkan demam dan flu, dapat berkembang dalam tubuh. Sistem kekebalan juga memberikan pengawasan terhadap sel tumor, dan terhambatnya sistem ini juga telah dilaporkan meningkatkan resiko terkena beberapa jenis kanker.

2.2 penurunan sistem imun akibat kemoterapi

Kemoterapi adalah proses pengobatan dengan menggunakan obat-obatan yang bertujuan untuk membunuh atau memperlambat pertumbuhan sel-sel kanker.Pengobatan kemoterapi memang identik dengan pasien kanker. Beberapa efek samping seperti mual, muntah, rambut rontok dan lemas adalah hal yang umum dijumpai pada mereka yang menjalani terapi ini. Namun studi terbaru mengklaim, efek kemoterapi dalam dosis tinggi juga bisa membuat orang sulit untuk mengekspresikan diri secara verbal.
Kemoterapi dapat menyebabkan penurunan pada darah, karena beberapa jenis obat kemoterapi dapat mempengaruhi kerja sumsum tulang yang merupakan pabrik pembuat sel darah, sehingga jumlah sel darah menurun. Yang paling sering adalah penurunan sel darah putih(leukosit) penurunan sel darah terjadi pada setiap kemoterapi dan tes darah akan dilaksanakan sebelum kemoterapi untuk memastikan jumlah sel darah telah kembali normal. Penurunan sel darah dapat mengakibatkan :

a.       Mudah terkena infeksi
Hal ini disebabkan oleh karena jumlah leukosit turun, karena leukosit adalah sel darah yang berfungsi untuk melindungi terhadap infeksi.
b.      Pendarahan
Keping darah (trombosit) berperan pada pembekuan darah . Penurunan jumlah trombosit mengakibatkan pendarahan sulit berhenti, lembam, dan bercak merah dikulit.
c.       Anemia
Anemia adalah penurunan jumlah sel darah merah yang ditandai oleh penurunan Hb (hemoglobin), karena Hb terletak didalam sel darah merah. Akibatnya tubuh penderita mudah lelah, lemas dan pucat.

2.3 penuruna sistem imun akibat radiasi
Terapi radiasi adalah terapi sinar menggunakan energi tinggi yang dapat menembus jaringan dalam rangka membunuh sel neoplasma.
Persyaratan Terapi Radiasi
Penyembuhan total terhadap karsinoma nasofaring apabila hanya menggunakan terapi radiasi harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :
a. Belum didapatkannya sel tumor di luar area radiasi
b. Tipe tumor yang radiosensitif
c.  Besar tumor yang kira-kira radiasi mampu mengatasinya
d. Dosis yang optimal.
e. Jangka waktu radiasi tepat
f.  Sebisa-bisanya menyelamatkan sel dan jaringan yang normal dari efek samping radiasi.
Terapi radiasi sendiri sifatnya adalah :
a. Merupakan terapi yang sifatnya lokal dan regional
b. Mematikan sel dengan cara merusak DNA yang akibatnya bisa mendestrukasi sel tumor
c. Memiliki kemampuan untuk mempercepat proses apoptosis dari sel tumor.
d. Ionisasi yang ditimbulkan oleh radiasi dapat mematikan sel tumor.
e.  Memiliki kemampuan mengurangi rasa sakit dengan mengecilkan ukuran tumor sehingga     mengurangi pendesakan di area sekitarnya..
f. Berguna sebagai terapi paliatif untuk pasien dengan perdarahan dari tumornya.
g. Walaupun pemberian radiasi bersifat lokal dan regional namun dapat mengakibatkan defek     imun secara general.
Efek Samping Terapi Radiasi :
1. Radiomukositis, stomatitis, hilangnya indra pengecapan, rasa nyeri dan ngilu pada gigi.
2.Xerostomia, trismus, otitis media
3.Pendengaran menurun
4.Pigmentasi kulit seperti fibrosis subkutan atau osteoradionekrosis.
5.Pada terapi kombinasi dengan sitostatika dapat timbul depresi sumsum tulang dan gangguan gastrointestinal.
6.Lhermitte syndrome karena radiasi myelitis.
7.Hypothyroidism
8.dsb
Pengaruh Terapi Radiasi Terhadap Sistem Imun
Secara luas dilaporkan bahwa segera setelah pemberian radiasi terjadi gangguan terhadap sel limfosit T, yang akibatnya memudahkan timbulnya berbagai macam infeksi. Pasien dengan tumor primer di leher dimana drainase limfatiknya juga di leher , setelah diberikan radiasi mengakibatkan berkurangnya limfosit darah tepi secara signifikan. Jumlah limfosit T CD4+ menurun lebih bermakna dibandingkan penurunan jumlah sel limfosit T CD8+. Gangguan akibat radiasi tidak hanya mempengaruhi jumlah sel limfosit T namun juga mengakibatkan defek pada fungsi sel T. Adanya gangguan fungsi dibuktikan dengan sulitnya sel T ini distimulasi pada percobaan invitro. Penelitian menunjukkan bahwa ada kecenderungan normalisasi sel limfosit T CD4+ setelah 3-4 minggu pasca radiasi.

2.4 Penurunan sistem imun akibat asap kendaraan
Semakin tingginya tingkat polusi kendaraan di kota bukan hanya dapat menyebabkan dampak buruk pada pernafasan, polusi asap kendaraan bermotor dicurigai mempengaruhi penghambatan pertumbuhan janin. Demikian kesimpulan penelitian yang dilakukan para ilmuwan dari University of Western Australia dan Lembaga Penelitian Kesehatan Anak.
Penelitian yang dipimpin oleh Asisten Profesor Gavin Pereira ini memantau tingkat emisi lalu lintas di wilayah dengan kegiatan industri yang relatif rendah kemudian membandingkannya dengan catatan kelahiran lebih dari 1.000 ibu selama enam tahun, yaitu antara tahun 2000 dan 2006. Hasil penelitiannya diterbitkan Journal of Public Health Australia dan Selandia Baru dan menunjukkan bahwa bayi baru lahir yang berat optimalnya dapat mencapai 3,5 kg ternyata banyak yang lahir dengan berat hingga 58 g lebih ringan. Dibandingkan efeknya pada ibu hamil yang merokok, ibu yang terpapar asap kendaraan bermotor memiliki efek setengahnya.
Pereira mengatakan bahwa hasil ini cukup mengejutkan karena penelitiannya ini mengamati efek udara yang telah memenuhi pedoman standar kualitas nasional. “Penelitian internasional telah menemukan beberapa keterkaitan, tapi ini adalah untuk pertama kalinya kita melihat hubungan antara polusi lalu lintas di pinggiran kota yang normal dan efeknya terhadap pertumbuhan janin,” kata Pereira.
“Ada pesan yang akan diambil dari penelitian ini. Kita semua memiliki tanggung jawab untuk menjaga tingkat emisi tetap rendah. Kurangi berkendaraan, gunakan alat transportasi umum, perbanyak bersepeda dan berjalan kaki. Aktifitas perjalanan akan menambah manfaat untuk kesehatan jika tidak memperbanyak emisi lalu lintas,” katanya seperti dikutip dari situs resmi University of Western Australia, Rabu (6/10/2011).
Pereira saat ini meneliti pengaruh pembangunan lingkungan terhadap aktivitas fisik dan penyakit kronis. Menurutnya, perencanaan tata kota mungkin dapat menjadi salah satu strategi mengurangi beberapa penyakit utama seperti obesitas, diabetes, jantung dan asma.
2.5 penuruna sistem imun akibat bahan kimia
Zat-zat kimia yang sering dipakai pada kemasan makanan siap saji, pakaian dan alat masak anti lengket, ditengarai akan melemahkan respon imun dalam tubuh anak-anak sehingga mengurangi efektivitas vaksin. Jenis vaksin yang paling berpengaruh terhadap zat-zat kimia tersebut antara lain suntikan vaksin tetanus dan difteri. Studi mengenai dampak negatif senyawa perfluorinated tersebut dimuat dalam jurnal American Medical Association.

            Menurut penelitian, perfluorinated (PFC) bisa dipindahkan oleh ibu ke bayi saat di kandungan, atau melalui paparan di lingkungan setelah kelahiran. "Dampak negatif zat-zat kimia PFC pada vaksinasi anak-anak harus dilihat sebagai potensi yang berbahaya bagi kesehatan publik. Apalagi imunisasi adalah program pencegahan penyakit pada anak," kata Philippe Grandjean, ketua peneliti dari Harvard School of Public Health.

            Para peneliti mengatakan terkejut dengan hasil riset yang menunjukkan bahwa PFC mungkin bersifat lebih toksin bagi sistem kekebalan tubuh dibandingkan paparan dioxin. Padahal PFC dipakai dalam berbagai industri. Pada studi awal diketahui konsenstrasi PFC pada tikus sama dengan yang ditemukan pada orang-orang yang memiliki respon imun rendah. Namun efek negatif zat kimia tersebut pada manusia belum diteliti secara mendalam.











BAB III
PENUTUP
3.1 kesimpulan
Sistem imun adalah suatu sistem dalam tubuh yang terdiri dari sel-sel serta produk zat-zat yang dihasilkannya, yang bekerja sama secara kolektif dan terkoordinir untuk melawan benda asing seperti kuman-kuman penyakit atau racunnya, yang masuk ke dalam tubuh.
Kemoterapi adalah proses pengobatan dengan menggunakan obat-obatan yang bertujuan untuk membunuh atau memperlambat pertumbuhan sel-sel kanker.Pengobatan kemoterapi memang identik dengan pasien kanker.
Terapi radiasi adalah terapi sinar menggunakan energi tinggi yang dapat menembus jaringan dalam rangka membunuh sel neoplasma.
Semakin tingginya tingkat polusi kendaraan di kota bukan hanya dapat menyebabkan dampak buruk pada pernafasan, polusi asap kendaraan bermotor dicurigai mempengaruhi penghambatan pertumbuhan janin.
Zat-zat kimia yang sering dipakai pada kemasan makanan siap saji, pakaian dan alat masak anti lengket, ditengarai akan melemahkan respon imun dalam tubuh anak-anak sehingga mengurangi efektivitas vaksin.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar