Minggu, 27 Mei 2012

jurnal bahaya kimia bagi sistem imun

Bahaya kimia

ANALISIS JURNAL
Bahan-bahan kimia telah menjadi bahan yang tak dapat terpisahkan, dalam kehidupan sehari-hari. Hampir semua industry menggunakan bahan-bahan kimia baik sebagai bahan utama maupun yang lain. Bahan kimia ada yang menguntungkan dan ada juga yang merugikan bagi pengguna. Bahan kimia mempunyai potensi toxic pemaparan untuk pekerja. Risiko pemaparan bisa berasal dari paparan, produksi, penyimpanan, penggunaan, penggunaan, maupun kebocoran wadahnya. Dari kedua jurnal diatas, jelaslah terlihat bahwa banyak sekali zat kimia tersebut menimbulkan dampak negative yang tidaklah sedikit. Misalnya pada para pekerja PT.Samiaji yang terpapar debu asbes dan semen, mereka positif mengalami gangguan fungsi paru. Karena debu asbes yang masuk kedalam tubuh mereka menyebabkan 3 penyakit paru yaitu penyakit asbestosis, kanker paru, dan kanker pleura atau mesotelium. Penyakit tersebut seringkali fatal dan bahkan dapat berujung kematian.
Lain halnya yang terjadi pada para pekerja di CV.Laksana walaupun dari hasil menerangkan bahwa kadar keracunan benzene masih relative kecil atau masih ditingkatan awal namun hal tersebut sudahlah cukup untuk dapat mengganggu proses pembentukkan eritrosit. Jika sudah berlanjut pada tingkatan yang cukup parah dan jangka waktu lama (5-30 tahun), keracunan akibat benzene dapat menyebabkan penderita mengalami leukemia yang juga dapat menyebabkan kematian. Karakteristik dari benzene adalah bersifat menguap, mudah terbakar, non polar, dan tidak berwarna. Benzena merupakan cairan tidak berwarna dengan bau yang manis. mbang benzena adalah sekitar 60 bagian per juta (ppm), meskipun ada rentang yang cukup besar dalam nilai-nilai yang dilaporkan (0,78-160 ppm). Batas pemaparan benzena yang diperbolehkan, baik 8-jam waktu eksposur rata-rata tertimbang dari 1 ppm atau jangka pendek batas yang diperbolehkan dari 5 ppm selama menit 15 menit.
Dilihat dari cara terpaparnya pada kedua permasalahan diatas dapat disimpulkan bahwa para pekerja terpapar bahan kimia tersebut diantaranya melalui saluran pernapasan (inhalasi). Di Industri, inhalasi merupakan jalan masuk paparan yang paling penting dan paling sering terjadi terutama pada paparan bahan kimia. Selama hidup manusia selalu bernafas di mana pun dan kapan pun tanpa perlu tahu apakah udara yang dihirup merupakan udara yang bersih atau tidak. Hal tersebut memungkinkan para pekerja yang selama 8 jam per hari menghirup udara ± 8m3di lingkungan terpapar bahan kimia, seperti benzene, setiap hari akan menghirup uap benzene atau bahan kimia lain yang membahayakan kesehatannya.
Bahan-bahan kimia pada industry tersebut sangat berpengaruh bagi kesehatan lingkungan terutama bagi kesehatan pekerja.  Menurut berbagai sumber dan penelitian jika setiap hari para pekerja terpapar bahan kimia berbahaya seperti benzena setidaknya selama 8 jam maka sangat mungkin bila hal tersebut berimbas pada penurunan status kesehatan mereka. Sehingga produktifitas pekerja menjadi menurun dan membuat kualitas serta kuantitas kerja menjadi terganggu. Sehubungan dengan status kesehatan, bahaya benzena ada yang berefek jangka pendek (akut) dan ada pula yang berefek jangka panjang (kronis). Efek Jangka pendek (akut), menghirup high level benzena dapat menyebabkan kematian. Sedangkan menghirup low level benzena dapat mengakibatkan depresi sistem saraf pusat (SSP) yang ditandai dengan kantuk, pusing, sakit kepala, mual, kehilangan koordinasi,kerusakan otak ireversibel,kebingungan & ketidaksadaran/pingsan. Selain itu juga dapat menyebabkan iritasi mata, iritasi kulit, iritasi hidung, iritasi tenggorokan, iritasi saluran pernafasan, dan tremors.
Efek jangka panjang (kronis), dapat menyebabkan kerusakan pada sumsum tulang dan menyebabkan gangguan dalam darah, seperti : penurunan sel darah merah, anemia, & leukimia serta penyakit lainnya yang berhubungan dengan kanker darah dan pra-kanker dari darah. Juga dapat menyebabkan perdarahan yang berlebihan & menurunkan sistem imun sehingga meningkatkan kesempatan infeksi. Selain melalui pernafasan / inhalasi dapat juga melaui kulit atau mukosa mata. Pekerja sering kali tidak memakai sarung tangan ketika memegang bahan kimia hal ini berisiko terpapar zat kimia berbahaya yang masuk melalui pori – pori kulit atau membran mukosa mata.
Berbeda halnya jika kita terhirup debu asbes dan semen, debu tersebut tertinggal di paru-paru kita dan akan berubah menjadi “badan-badan asbestos”, yang jika diperiksa menggunakan mikroskop tampak seperti batang dengan panjang mencapai 200 mikron. Pada pekerja yang telah lama terpapar debu asbes, retensi serat-serat asbesnya cukup besar. Jika dibiarkan, serat tersebut secara perlahan-lahan akan menimbulkan jaringan ikat pada paru yang progresif. Kelainan secara radiologis atau dengan foto rontgen paru, mudah dikenali karena menunjukkan gambaran khas. Berupa “ground glass appearance” atau titik-titik halus di basis paru-paru dengan batas jantung dan diafragma yang tidak jelas. Setelah masa laten yang panjang, antara 20-40 tahun, serat tersebut bisa menimbulkan kanker paru. Selain terpapar melalui jalur inhalasi, kedua bahan kimia tersebut juga dapat masuk ke tubuh manusia melalui kulit atau mukosa mata ataupun mengonsumsi makanan dan minuman yang mengandung sejumlah kecil serat-serat tersebut (pada debu asbes dan semen).  Akibat lebih lanjutnya dapat menimbulkan obtruksi saluran pernafasan para pekerja. Ada tiga macam penyakit paru yang dapat menyerang para pekerja apabila secara terus-menerus terpapar oleh debu yang ditimbulkan oles asbes dan semen yaitu penyakit asbestosis, kanker paru, dan kanker pleura (mesotelium).
Beberapa langkah dapat dilakukan untuk mengendalikan risiko terpapar bahan kimia tersebut yaitu  melalui pengendalian sumber, pengendalian di sepanjang area yang terpapar, dan pengendalian pada para pekerja. Pengendalian risiko pemaparan bahan kimia diantaranya dengan melakukan pengecekan konsentrasi /nilai batas aman pemakaian bahan kimia serta lama pemaparannya. Selanjutnya adalah dengan pemeriksaan kesehatan para pekerja secara rutin dan berkala, sehingga akan didapat data kesehatan pekerja sebagai bentuk pendeteksian dini terhadap risiko paparan bahan kimia. Penempatan tenaga ahli juga diperlukan untuk mengendalikan risiko bahan kimia. Peningkatan pengetahuan para pekerja mengenai bahan kimia tersebut beserta risikonya juga penting dalam mengendalikan risiko bahan kimia. Selain itu pada pekerja yang terpapar debu asbes dan semen untuk mengurangi tingginya konsentrasi debu asbes dan semen dengan membuat pembatas yang tegas di antara ruang-ruang unit operasi, penambahan sistem ventilasi udara setempat secara natural, monitoring pengukuran lingkungan kerja secara rutin serta menjaga kebersihan lingkungan kerja.
Dan hal yang tidak kalah penting dalam upaya mendukung pengendalian risiko bahan kimia adalah penggunaan personal protective equipment atau yang biasa disebut alat pelindung diri (APD) terutama masker. Untuk benzene yang masuk ke dalam tubuh terutama dalam bentuk gas/uap Tidak hanya sekedar masker, masker yang tepat dan efektif untuk meminimalkan risiko tersebut seharusnya berupa canister respirator yang dapat melindungi paparan partikel gas toksik karena dilengkapi filter. Penempatan tenaga ahli juga diperlukan untuk mengendalikan risiko bahan kimia. Peningkatan pengetahuan para pekerja mengenai bahan kimia tersebut beserta risikonya juga penting dalam menggendalikan risiko bahan kimia.
Karena bersifat toksik, sudah seharusnyalah penyimpanan dan pengangkutannya dilakukan secara hati-hati dan sesuai prosedur keamanan dan kesehatan kerja. Hal yang tidak kalah penting dalam upaya mendukung pengendalian risiko bahan kimia adalah penggunaan personal protective equipment atau yang biasa disebut alat pelindung diri (APD). Untuk benzene yang masuk ke dalam tubuh terutama dalam bentuk gas/uap melalui inhalasi/pernafasan, maka dibutuhkan masker . Tidak hanya sekedar masker, masker yang tepat dan efektif untuk meminimalkan risiko tersebut seharusnya berupa canister respirator yang dapat melindungi paparan partikel gas toksik karena dilengkapi filter. Selain kesesuaian fungsidan jenis alat pelindung diri, maka juga harus diperhatikan kenyamanan pemakaiannya dan tidak menimbulkan gangguan dalam bekerja.
Secara tidak sadar, sistem imun kita bisa diserang oleh hal-hal remeh yang biasa hinggap sehari-hari di kehidupan kita . Kekurangan  nutrisi, polusi dan stress ternyata sangat berpengaruh terhadap penurunan daya tahan tubuh kita. Ayok kita cermati apa saja itu..
1.Kekurangan Nutrisi
FAKTA 1: Semua bentuk gula (termasuk madu) mengganggu kemampuan sel darah putih untuk menghancurkan bakteri. Sebuah laporan yang diterbitkan di American Journal of Clinical Nutrition menyatakan bahwa dalam tiga puluh menit mengkonsumsi empat ons glukosa, fruktosa, sukrosa, madu atau jus buah, pengurangan 50% dalam kemampuan sel darah putih untuk menghancurkan penyerbu asing terjadi dan terakhir dapat selama lebih dari lima jam.
Rata-rata orang Amerika menghabiskan 150 gram gula putih setiap hari.
FAKTA Pertama : kekebalan Berperedam bisa datang bahkan dari kekurangan kecil zat besi dan selenium, dua mineral dimana sejumlah besar orang Amerika masih kekurangan terhadapat zat ini. Selain itu, kekurangan vitamin A pada anak-anak yang umum dan fungsi kekebalan tubuh dapat melumpuhkan.
FAKTA Kedua : berlebihan asupan lemak merusak kekebalan. Kadar kolesterol tinggi dapat menghambat sejumlah fungsi kekebalan, termasuk kemampuan sel darah putih untuk menyerang organisme menular.
FAKTA ketiga : Obesitas telah dikaitkan dengan fungsi kekebalan yang lemah. Orang Kegemukan telah lemah sel darah putih.
2.Polusi
FAKTA pertama : Ratusan penelitian menggunakan metode ilmiah yang diterima telah menunjukkan bahwa pestisida banyak mengubah sistem kekebalan pada hewan percobaan dan membuat mereka lebih rentan terhadap penyakit.
FAKTA kedua : Pestisida mengurangi jumlah sel darah putih dan limfosit melawan penyakit, dan merusak kemampuan limfosit untuk merespon dan membunuh bakteri dan virus.
FAKTA ketiga: Sebuah laporan terbaru yang diterbitkan dalam Pencemaran Lingkungan dan Neuroimmunology menyatakan bahwa pengaruh gabungan dari berbagai faktor seperti bahan kimia, radiasi, dan stres pada sistem kekebalan tubuh dapat menyebabkan immunodeficiency dalam bentuk penyakit pernapasan dan inflamasi.
3.Stres
FAKTA: Stres rilis biokimia yang menekan fungsi kekebalan tubuh, menempatkan kita pada risiko lebih tinggi untuk semua jenis infeksi.
FAKTA: Bagaimana dan apa yang kita pikirkan dampak kekebalan. Data baru melaporkan bahwa sel-sel otak membuat bahan kimia kekebalan tubuh.
FAKTA: Post-traumatic stress menderita setelah Badai Andrew menurunkan kekebalan-pembunuh jumlah sel dalam subjek tes. Setiap peristiwa yang mengubah hidup membawa dengan itu suatu bentuk stres pasca-trauma, yang dapat membuat kita lebih rentan terhadap penyakit.
Ada apa dengan TRANSFER FACTOR ? Transfer Factor yang bersifat alami  mampu meningkatkan daya tahan tubuh kita antara 283 % hingga 437 % . Sebagai modulator sistem imun yang mampu mencegah dan memperbaiki proses peradangan atau inflamasi, Transfer Factor berfungsi sebagai antioksidan serta mampu meningkatkan aktifitas “Natural Killer” sel hingga 283% sampai dengan 437%. Disebut natural killer karena merupakan sel pembunuh alami yang bertugas membunuh sel-sel kanker dan sel-sel yang terinfeksi penyakit serta membantu tubuh membuang zat-zat racun atau toksin .Secara sederhana dapat dikatakan TRANSFER FACTOR adalah pembawa informasi untuk mendidik system imun akan bahaya setiap potensial penyakit atau penyakit yang sedang diderita.

penurunan sistem imun


MAKALAH
PENURUNAN SISTEM IMUN
logo-unja.png








Oleh:
Kiky widya loka
Nurhasanah
Rini hastuti
Reza Maryanto

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JAMBI
2011

                                                                BAB 1
PENDAHULUAN
1.1  Latar belakang
Kata imun berasal dari bahasa Latin ‘immunitas’ yang berarti pembebasan (kekebalan) yang diberikan kepada para senator Romawi selama masa jabatan mereka terhadap kewajiban sebagai warganegara biasa dan terhadap dakwaan. Dalam sejarah, istilah ini kemudian berkembang sehingga pengertiannya berubah menjadi perlindungan terhadap penyakit, dan lebih spesifik lagi, terhadap penyakit menular. Sistem imun adalah suatu sistem dalam tubuh yang terdiri dari sel-sel serta produk zat-zat yang dihasilkannya, yang bekerja sama secara kolektif dan terkoordinir untuk melawan benda asing seperti kuman-kuman penyakit atau racunnya, yang masuk ke dalam tubuh.

1.2  Tujuan
a.       Untuk mengetahui apa itu sistem imun
b.      Mengetahui beberapa penyebab penurunan sistem imun

1.3  Rumusan masalah
a.       Apa pengertian sistem imun
b.      Penurunan sistem imun akibat kemoterapi
c.       Penurunan sistem imun akibat radiasi
d.      Penurunan sistem imun akibat asap kendaraan
e.       Penurunan sistem imun akibat bahan kimia








BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian

Sistem imun adalah sistem perlindungan pengaruh luar biologis yang dilakukan oleh sel dan organ khusus pada suatu organisme. Jika sistem kekebalan bekerja dengan benar, sistem ini akan melindungi tubuh terhadap infeksi bakteri dan virus, serta menghancurkan sel kanker dan zat asing lain dalam tubuh. Jika sistem kekebalan melemah, kemampuannya melindungi tubuh juga berkurang, sehingga menyebabkan patogen, termasuk virus yang menyebabkan demam dan flu, dapat berkembang dalam tubuh. Sistem kekebalan juga memberikan pengawasan terhadap sel tumor, dan terhambatnya sistem ini juga telah dilaporkan meningkatkan resiko terkena beberapa jenis kanker.

2.2 penurunan sistem imun akibat kemoterapi

Kemoterapi adalah proses pengobatan dengan menggunakan obat-obatan yang bertujuan untuk membunuh atau memperlambat pertumbuhan sel-sel kanker.Pengobatan kemoterapi memang identik dengan pasien kanker. Beberapa efek samping seperti mual, muntah, rambut rontok dan lemas adalah hal yang umum dijumpai pada mereka yang menjalani terapi ini. Namun studi terbaru mengklaim, efek kemoterapi dalam dosis tinggi juga bisa membuat orang sulit untuk mengekspresikan diri secara verbal.
Kemoterapi dapat menyebabkan penurunan pada darah, karena beberapa jenis obat kemoterapi dapat mempengaruhi kerja sumsum tulang yang merupakan pabrik pembuat sel darah, sehingga jumlah sel darah menurun. Yang paling sering adalah penurunan sel darah putih(leukosit) penurunan sel darah terjadi pada setiap kemoterapi dan tes darah akan dilaksanakan sebelum kemoterapi untuk memastikan jumlah sel darah telah kembali normal. Penurunan sel darah dapat mengakibatkan :

a.       Mudah terkena infeksi
Hal ini disebabkan oleh karena jumlah leukosit turun, karena leukosit adalah sel darah yang berfungsi untuk melindungi terhadap infeksi.
b.      Pendarahan
Keping darah (trombosit) berperan pada pembekuan darah . Penurunan jumlah trombosit mengakibatkan pendarahan sulit berhenti, lembam, dan bercak merah dikulit.
c.       Anemia
Anemia adalah penurunan jumlah sel darah merah yang ditandai oleh penurunan Hb (hemoglobin), karena Hb terletak didalam sel darah merah. Akibatnya tubuh penderita mudah lelah, lemas dan pucat.

2.3 penuruna sistem imun akibat radiasi
Terapi radiasi adalah terapi sinar menggunakan energi tinggi yang dapat menembus jaringan dalam rangka membunuh sel neoplasma.
Persyaratan Terapi Radiasi
Penyembuhan total terhadap karsinoma nasofaring apabila hanya menggunakan terapi radiasi harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :
a. Belum didapatkannya sel tumor di luar area radiasi
b. Tipe tumor yang radiosensitif
c.  Besar tumor yang kira-kira radiasi mampu mengatasinya
d. Dosis yang optimal.
e. Jangka waktu radiasi tepat
f.  Sebisa-bisanya menyelamatkan sel dan jaringan yang normal dari efek samping radiasi.
Terapi radiasi sendiri sifatnya adalah :
a. Merupakan terapi yang sifatnya lokal dan regional
b. Mematikan sel dengan cara merusak DNA yang akibatnya bisa mendestrukasi sel tumor
c. Memiliki kemampuan untuk mempercepat proses apoptosis dari sel tumor.
d. Ionisasi yang ditimbulkan oleh radiasi dapat mematikan sel tumor.
e.  Memiliki kemampuan mengurangi rasa sakit dengan mengecilkan ukuran tumor sehingga     mengurangi pendesakan di area sekitarnya..
f. Berguna sebagai terapi paliatif untuk pasien dengan perdarahan dari tumornya.
g. Walaupun pemberian radiasi bersifat lokal dan regional namun dapat mengakibatkan defek     imun secara general.
Efek Samping Terapi Radiasi :
1. Radiomukositis, stomatitis, hilangnya indra pengecapan, rasa nyeri dan ngilu pada gigi.
2.Xerostomia, trismus, otitis media
3.Pendengaran menurun
4.Pigmentasi kulit seperti fibrosis subkutan atau osteoradionekrosis.
5.Pada terapi kombinasi dengan sitostatika dapat timbul depresi sumsum tulang dan gangguan gastrointestinal.
6.Lhermitte syndrome karena radiasi myelitis.
7.Hypothyroidism
8.dsb
Pengaruh Terapi Radiasi Terhadap Sistem Imun
Secara luas dilaporkan bahwa segera setelah pemberian radiasi terjadi gangguan terhadap sel limfosit T, yang akibatnya memudahkan timbulnya berbagai macam infeksi. Pasien dengan tumor primer di leher dimana drainase limfatiknya juga di leher , setelah diberikan radiasi mengakibatkan berkurangnya limfosit darah tepi secara signifikan. Jumlah limfosit T CD4+ menurun lebih bermakna dibandingkan penurunan jumlah sel limfosit T CD8+. Gangguan akibat radiasi tidak hanya mempengaruhi jumlah sel limfosit T namun juga mengakibatkan defek pada fungsi sel T. Adanya gangguan fungsi dibuktikan dengan sulitnya sel T ini distimulasi pada percobaan invitro. Penelitian menunjukkan bahwa ada kecenderungan normalisasi sel limfosit T CD4+ setelah 3-4 minggu pasca radiasi.

2.4 Penurunan sistem imun akibat asap kendaraan
Semakin tingginya tingkat polusi kendaraan di kota bukan hanya dapat menyebabkan dampak buruk pada pernafasan, polusi asap kendaraan bermotor dicurigai mempengaruhi penghambatan pertumbuhan janin. Demikian kesimpulan penelitian yang dilakukan para ilmuwan dari University of Western Australia dan Lembaga Penelitian Kesehatan Anak.
Penelitian yang dipimpin oleh Asisten Profesor Gavin Pereira ini memantau tingkat emisi lalu lintas di wilayah dengan kegiatan industri yang relatif rendah kemudian membandingkannya dengan catatan kelahiran lebih dari 1.000 ibu selama enam tahun, yaitu antara tahun 2000 dan 2006. Hasil penelitiannya diterbitkan Journal of Public Health Australia dan Selandia Baru dan menunjukkan bahwa bayi baru lahir yang berat optimalnya dapat mencapai 3,5 kg ternyata banyak yang lahir dengan berat hingga 58 g lebih ringan. Dibandingkan efeknya pada ibu hamil yang merokok, ibu yang terpapar asap kendaraan bermotor memiliki efek setengahnya.
Pereira mengatakan bahwa hasil ini cukup mengejutkan karena penelitiannya ini mengamati efek udara yang telah memenuhi pedoman standar kualitas nasional. “Penelitian internasional telah menemukan beberapa keterkaitan, tapi ini adalah untuk pertama kalinya kita melihat hubungan antara polusi lalu lintas di pinggiran kota yang normal dan efeknya terhadap pertumbuhan janin,” kata Pereira.
“Ada pesan yang akan diambil dari penelitian ini. Kita semua memiliki tanggung jawab untuk menjaga tingkat emisi tetap rendah. Kurangi berkendaraan, gunakan alat transportasi umum, perbanyak bersepeda dan berjalan kaki. Aktifitas perjalanan akan menambah manfaat untuk kesehatan jika tidak memperbanyak emisi lalu lintas,” katanya seperti dikutip dari situs resmi University of Western Australia, Rabu (6/10/2011).
Pereira saat ini meneliti pengaruh pembangunan lingkungan terhadap aktivitas fisik dan penyakit kronis. Menurutnya, perencanaan tata kota mungkin dapat menjadi salah satu strategi mengurangi beberapa penyakit utama seperti obesitas, diabetes, jantung dan asma.
2.5 penuruna sistem imun akibat bahan kimia
Zat-zat kimia yang sering dipakai pada kemasan makanan siap saji, pakaian dan alat masak anti lengket, ditengarai akan melemahkan respon imun dalam tubuh anak-anak sehingga mengurangi efektivitas vaksin. Jenis vaksin yang paling berpengaruh terhadap zat-zat kimia tersebut antara lain suntikan vaksin tetanus dan difteri. Studi mengenai dampak negatif senyawa perfluorinated tersebut dimuat dalam jurnal American Medical Association.

            Menurut penelitian, perfluorinated (PFC) bisa dipindahkan oleh ibu ke bayi saat di kandungan, atau melalui paparan di lingkungan setelah kelahiran. "Dampak negatif zat-zat kimia PFC pada vaksinasi anak-anak harus dilihat sebagai potensi yang berbahaya bagi kesehatan publik. Apalagi imunisasi adalah program pencegahan penyakit pada anak," kata Philippe Grandjean, ketua peneliti dari Harvard School of Public Health.

            Para peneliti mengatakan terkejut dengan hasil riset yang menunjukkan bahwa PFC mungkin bersifat lebih toksin bagi sistem kekebalan tubuh dibandingkan paparan dioxin. Padahal PFC dipakai dalam berbagai industri. Pada studi awal diketahui konsenstrasi PFC pada tikus sama dengan yang ditemukan pada orang-orang yang memiliki respon imun rendah. Namun efek negatif zat kimia tersebut pada manusia belum diteliti secara mendalam.











BAB III
PENUTUP
3.1 kesimpulan
Sistem imun adalah suatu sistem dalam tubuh yang terdiri dari sel-sel serta produk zat-zat yang dihasilkannya, yang bekerja sama secara kolektif dan terkoordinir untuk melawan benda asing seperti kuman-kuman penyakit atau racunnya, yang masuk ke dalam tubuh.
Kemoterapi adalah proses pengobatan dengan menggunakan obat-obatan yang bertujuan untuk membunuh atau memperlambat pertumbuhan sel-sel kanker.Pengobatan kemoterapi memang identik dengan pasien kanker.
Terapi radiasi adalah terapi sinar menggunakan energi tinggi yang dapat menembus jaringan dalam rangka membunuh sel neoplasma.
Semakin tingginya tingkat polusi kendaraan di kota bukan hanya dapat menyebabkan dampak buruk pada pernafasan, polusi asap kendaraan bermotor dicurigai mempengaruhi penghambatan pertumbuhan janin.
Zat-zat kimia yang sering dipakai pada kemasan makanan siap saji, pakaian dan alat masak anti lengket, ditengarai akan melemahkan respon imun dalam tubuh anak-anak sehingga mengurangi efektivitas vaksin.